Home

Minggu, 2 Maret 2014

Paginya, kontraksi semakin lama semakin kuat, mirip kontraksi menstruasi. Saya install aplikasi contraction timer. Jarak antar kontraksi sekitar 7 menit dan setiap kontraksi berlangsung sekitar 1 menit. Saya pun hanya berdiam diri di kamar, bahkan untuk turun ke lantai bawah saja tidak sanggup. Kata orang, harus banyak jalan supaya bukaan cepet nambah. Huhuhu jalan aja rasanya susah. Tapi saya berpikir ini belum saatnya ke RS karena saya masih bisa main Line Bubble dan Cookie Run disela-sela kontraksi hihi. Semakin siang, kontraksi semakin kuat, saya sudah tidak sanggup main game lagi. Saya dan suami memutuskan untuk ke RS setelah dzuhur.

Tiba di RS, saya (diantar suami dan ibu mertua) langsung ke UGD dan memberitahu bidan bahwa saya sudah mulai kontraksi. Bidan melakukan pemeriksaan dalam dan menurut beliau bukaannya masih 1 longgar, kantung ketuban menonjol, dan kepala Littlehaidar masih bisa disundul (?). Lemas rasanya. Masih bukaan 1? Tapi memang saya masih bisa senyum-senyum dan jawab pertanyaan-pertanyaan bidan, masih lamakah persalinan itu? Bidan menelepon dr. Ema dan dr. Ema menyarankan saya untuk langsung check in dan observasi 8 jam sampai jam 10 malam.

Semakin lama kontraksi semakin kuat, mulai terasa sakit di tulang ekor, posisi berbaring sudah tidak nyaman, bolak balik sana sini. Padahal kata bidan  sebaiknya miring ke kiri. Setiap kontraksi datang, tangan suami diremas-remas dan aku minta dia memijit-mijit tulang ekor. Entah kenapa pada saat itu, saya baru ingat teknik pernapasan yang diajarkan saat senam hamil. Mungkin karena panik, semua teori terlupakan. Saya mencoba menerapkan teknik pernapasan saat kontraksi datang, lumayan meredakan rasa sakit, tapi memang sulit berkonsntrasi.

Karena semakin sakit, saya pun memanggil bidan sekitar waktu maghrib. Dan setelah dicek baru bukaan 3. Ya Allah, ternyata begini ya kontraksi melahirkan, sakitnya aduhai. Saking sakitnya saya bilang ke suami “Yang, sakit banget, mau operasi aja.” Untungnya suami setia menyemangati dan membujuk saya untuk menunggu setidaknya sampai jam observasi selesai (4 jam lagi!). Kalau bukaan tidak maju-maju baru kita putuskan langkah selanjutnya. Oh ya, saya juga dikasih makan sore, tapi semuanya dimuntahin lagi karena mual. Tenaga pun hanya diisi dari air minum & air zamzam.

Setiap merasa semakin sakit, saya memanggil bidan untuk mengecek bukaan. Untung bidannya sabar dan selalu menyemangati untuk lahiran normal. Oh ya, selama menunggu bukaan, secara rutin ada bidan PKL yang mengecek tekanan darah dan suhu tubuh juga, untuk memonitor kondisi tubuh. Alhamdulillah, perlahan bukaan naik, dan sekitar pukul 9.30 sudah mencapai bukaan 5 dan sudah ada perasaan ingin mengejan. Saya pun segera dipindahkan ke ruang bersalin. Di RSIA Budi Kemuliaan, persalinan harus ditemani oleh satu orang, bisa suami, ibu, atau saudara perempuan lainnya.

Ruangan bersalin tampak menyeramkan dan dingin. Begitu masuk saya langsung menggigil kedinginan sampai harus dibawakan selimut tebal. Para bidan berpakaian hijau. Fyi, ini juga pertama kalinya saya dirawat di RS lho. Bidan kembali mengecek bukaan dan posisi kepala bayi. Saya samar-samar mendengar bidan mengatakan perkiraan lahir jam 1 malam. Ya Allah, 3 jam lagi sakit ini harus ditahan, kuatkanlah. Bidan-bidan di sini lebih cuek dan tegas (?), tidak perduli pasien mengeluh sesakit apa, pokoknya kalau tidak ada indikasi, harus lahiran normal. Titik. Dr. Ema belum datang, katanya akan menuju kesini.

Mulai bukaan 6, sakitnya semakin tak tertahankan, tulang ekor semakin sakit dan keinginan untuk mengejan semakin tak tertahankan. Suami semakin kesakitan tangannya diremas-remas (Makasih sayaaaang). Sebelum bukaan lengkap, mengejan itu dilarang, karena nantinya leher rahim akan bengkak. Saya ingat itu, dan bidan pun selalu mengingatkan, suami pun menyemangati, “Ayo, jangan dulu mengejan, tarik napas, tarik napas”. Tapi sungguh tidak tahan, diam-diam saya mengejan. Sampai akhirnya ketika bukaan 8, akibat mengejan, ketuban pecah. Rasanya seperti ada balon meletus dari perut.

Sama seperti sebelumnya, selama menunggu bukaan, secara rutin ada bidan PKL yang mengecek tekanan darah dan denyut jantung bayi. Setelah ketuban pecah itu, kalau kontraksi, denyut jantung Littlehaidar melemah sampai 90x per menit (normalnya 130x per menit). Saya pun disuruh menghirup oksigen lewat selang untuk membantu pernapasan Littlehaidar. Para bidan sibuk menganalisis dan berkonsultasi ke dokter. Aku bingung, apakah harus panic atau bagaimana. Di tengah hiruk pikuk itu, dengan lemas aku bertanya pada suami “Aku bakal dioperasi?”

Karena dr. Ema tidak bisa datang (anaknya sakit) dan kondisi sudah darurat, bidan menawarkan 2 solusi: ditangani dokter spesialis (cowok) atau dokter umum (cewek) yang bertugas sebagai dokter jaga. Dengan berat hati, kami pun memilih ditangani dokter spesialis, namanya dr. Yudithia, Sp.OG. Tidak lama kemudian dokter pun datang dan bersiap membantu persalinan. Bidan mengecek ternyata bukaan sudah lengkap dan saya pun dipersilakan mengejan. Alhamdulillah, nikmat banget rasanya mengejan itu, apalagi pas bidannya bilang dikit lagi, dikit lagi, semakin semangat. Setelah 3-4 kali mengejan Littlehaidar belum keluar, akhirnya dokter meminta izin melakukan ekstraksi vakum dengan indikasi gawat janin. Alat vakum ditempelkan ke kepala Littlehaidar, dan gunting bekerja, saya mengejan, dan alat bantu menarik Littlehaidar keluar. Tidak sakit sama sekali. Beberapa saat kemudian, pukul 11.10 malam, terdengar suara tangisan nyaring. Alhamdulillah 🙂 penantian 39 minggu 4 hari terbayar sudah. Semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang. Welcome to the world my baby 🙂

Selagi saya dijahit dibagian perineum (tidak sakit, tapi rasanya aneh), Littlehaidar ditempelkan tengkurap ke dada, pertama kalinya saya mengelus kulit lembutnya. Senang sekali rasanya. Setelah jahit menjahit selesai, Littlehaidar dibawa keluar ditemani ayahnya untuk dibersihkan, ditimbang, diukur tinggi badan, disuntik vitamin K, dicap telapak kaki, dan diadzanin. Setelah Littlehaidar bersih, Littlehaidar dikembalikan untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Selain pro normal, rumah sakit ini pro ASI. Top banget.

Karena Littlehaidar lahir dengan tindakan (ekstraksi vakum), dia harus diobservasi selama 6 jam. Saya juga diobservasi 2 jam di Ruang Bersalin takutnya ada pendarahan. Selama observasi udah bisa buka HP balesin chat yang masuk hehe 🙂 Malemnya, masih ada kontraksi sedikit karena rahim melakukan pengosongan dan tentunya sakit bekas jahitan yang membuat saya susah duduk. Tapi melahirkan normal memang enak, besoknya udah bisa turun dari tempat tidur, BAK, dan jalan-jalan ke balkon. Kalau saja tidak ada jahitan, pasti lebih enak lagi ya. Intinya, diberi kesempatan untuk melahirkan itu luar biasa. Alhamdulillah :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s