Home

Beberapa waktu yang lalu sempat mencatat resume materi taklim akhwat dengan Teh Peggy Melati Sukma (25/11). Sharing sebagai reminder juga untuk diri sendiri dan biar nggak kelelep di documents 🙂

Tentang tauhid. Berapa banyak di antara umat Muslim yang secara lisan ber-syahadat, mengakui bahwa yang patut disembah hanya Allah, ibadah rutin dilaksanakan, tapi dalam kehidupan sehari-hari, bukan Allah yang sesungguhnya jadi tujuan hidup kita? Contoh: Menjadikan materi sebagai tujuan hidup, kerja keras tapi jika Allah memanggil menunda-nunda, siapa yang lebih penting? Materi atau Allah? Siapa yang mendatangkan rizki itu? Kalau kehilangan harta benda gelisahnya setengah mati, padahal harta benda itu milik siapa? Milik Allah, bukan milik kita, itu semua hanya amanah. Jangan sampai secara lisan ber-syahadat, tapi secara hati tidak, dan dianggap sebagai syirik, naudzubillah. Astaghfirullah, Ya Allah, sungguh betapa hamba masih banyak sekali lalai dalam memaknai dan menjalani kehidupan ini, bimbinglah hamba dalam menuntut ilmu dan agar selalu istiqamah di jalan-Mu…

Sudah benarkah shalat kita? Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Tapi seringkali kita temukan sesama Muslim yang shalat-nya rajin tapi tetap melakukan kemunkaran, misalnya tetap mabuk-mabukan, makan-makanan haram, mengumbar aurat, dsb. Mari kita evaluasi lagi shalat kita. Berapa banyak dari kita yang shalat itu hanya ritual belaka, bacaan sudah otomatis, tapi nggak benar-benar menganggap shalat itu sarana komunikasi dengan Allah, hati kita nggak benar-benar ada di sana, arti bacaan sholat aja lupa, atau kalaupun inget nggak diresapi, hanya tahu saja, tapi dalam aplikasi di dunia nyata nol besar.  *jleb banget ini* Nol besar bagaimana? Misal, setiap sholat kita membaca QS Al-Fatihah, dalam ayat 5 kita mohon pertolongan Allah:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Tapi apa yang terjadi, perintah-perintah Allah dalam Al-Qur’an kita nggak laksanakan, banyak saja alasannya. Sunnah Rasul dianggap ketinggalan zaman. Naudzubillah. Ya jelas shalat-nya tidak akan mampu mencegah perbuatan munkar.

Sabar dalam ketaatan. Untuk taat kepada Allah itu kita harus benar-benar sabar, menahan diri (secara harfiah, shabr artinya tertahan). Menahan dari segala bentuk godaan, terutama nafsu dunia. Bayangkan saja balasan bagi orang-orang yang sabar dalam ketaatan seperti yang disebutkan dalam QS Al-Furqan ayat 75-76

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”

Ya Allah, sungguh ingin hamba disambut masuk ke dalam surga-Mu. Semoga selalu ingat ayat ini dan tiap kali malas dalam ketaatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s