Home

Hari Senin yang lalu (11/4), Alhamdulillah taklim gabungan di kantor kedatangan kembali Ust. Bendri Jaisyurrahman. Kali ini temanya adalah “Emotional Bonding”.

Kenapa emotional bonding itu penting dalam parenting? Karena hati adalah raja, ketika hati kita terikat, maka anak kita akan berusaha berperilaku yang menyenangkan kita, seperti:
  1. Anak patuh pada orang tua, walau terpaksa
  2. Anak tetap hormat pada orang tua, walau dimarahi
  3. Orang tua menjadi referensi mengenai nilai-nilai kehidupan
  4. Anak tidak punya privasi dengan orang tua, semua hal yang terjadi dia ceritakan
  5. Anak akan betah tinggal di rumah
  6. Orang tua menjadi referensi dalam mencari jodoh
Masa emotional bonding yang paling ideal adalah pada usia 0-2 tahun, sama dengan masa pemberian ASI. Pemberian ASI bukan sekedar pemenuhan nutrisi, tapi merupakan fase emotional bonding. Ketika sang ibu tidak mampu memberikan ASI, karena masalah kesehatan, ASI yang sedikit, dll, anak tetap harus banyak dibelai dan dipeluk.

Jadi teringat apakah littlehaidar memiliki emotional bonding yang kuat dengan saya. Semoga. Meskipun saya bekerja, Alhamdulillah sampai usianya yang menginjak 25 bulan, atas izin Allah, saya tidak pernah sekalipun tidur berpisah dengan dia, dan tidak pernah meninggalkan dia dalam waktu yang lama selain jam kerja šŸ™‚ Ya paling ditinggal ke tukang sayur šŸ™‚

Ust. Bendri mencontohkan beberapa kasus nyata dari orang-orang di sekitarnya, di mana anak-anak khususnya usia remaja, banyak yang tidak hormat kepada orang tua, lebih senang keluyuran, menyembunyikan banyak hal dari orang tua… dan boom! terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan (naudzubillah… semoga tidak terjadi dengan anak-anak kita)

Beliau membandingkan dengan hubungan Nabi Ismail & Nabi Ibrahim juga Nabi Yusuf & Nabi Ya’qub, di mana ayah-anak tersebut memiliki hati yang terikat kuat. Bahkan ketika jauh dari ayahnya, Nabi Yusuf selalu mengingat nasihat ayahnya (contohnya ketika digoda Zulaikha) dan Nabi Ismail walaupun jarang bertemu ayahnya, selalu patuh pada ayahnya (contohnya ketika Nabi Ibrahim menceritakan mimpi untuk menyembelihnya dan ketika Nabi Ibrahim berpesan untuk menceraikan istrinya).

Lalu, ada rekan saya yang bertanya, kalau anak kita sudah terlanjur tidak seperti ke-6 ciri emotional bonding di atas, apa yang harus kita lakukan?

Ust. Bendri mengatakan tidak ada kata terlambat untuk berubah. Kuncinya adalah seperti dalam Surat Huud ayat 114

“… sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

Dan ini terjadi pada beliau dan adiknya. Kebetulan ayah beliau menderita sakit dan beliau mempunyai adik perempuan. Beliau pun merasa bertanggung jawab untuk menuntun adiknya ke jalan kebaikan. Pada awalnya beliau bersikap keras, namun tidak efektif. Akhirnya beliau mencoba bersikap lembut dan menaklukkan hati adiknya terlebih dahulu. Alhamdulillah, atas izin Allah, beliau berhasil menuntun adiknya ke jalan kebaikan.

Intinya, percuma kita ceramahin ini itu, nasihatin ini itu, kalau hatinya tidak terikat ya nggak akan mempan. Sejalan dengan prinsip dakwah, yang seharusnya dijalankan dengan lemah lembut šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s