Home

Artikel juga bisa dilihat di The Urban Mama yaaa….


Dari banyak artikel yang saya baca, sebagian besar menyimpulkan bahwa menonton memberikan dampak negatif bagi anak. Menurut Rumah Dandelion, beberapa dampak negatif dari screen timeadalah:

  • Melemahkan kontrol diri
  • Menurunkan daya konsentrasi
  • Pembelajaran tidak langsung dan pasif
  • Minim kontak dengan orang lain
  • Paparan hal ekstrem

Berawal dari informasi tersebut, saya menjadi ibu yang cukup strict dalam memberikan screen timepada anak saya yang saat ini berusia 2 tahun 1 bulan. Walaupun tidak dapat dipungkiri, banyak video edukasi dan nursery rhymes yang cukup membantu anak saya dalam menambah perbendaharaan kata, mengenal berbagai macam lagu, hingga mengenal angka dan huruf.

Prinsip saya ketika memberikan screen time pada anak adalah berusaha mengakali screen time menjadi kegiatan aktif, bukan hanya kegiatan pasif. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Menceritakan isi video yang sedang ditonton, utamakan menyisipkan pertanyaan agar anak proaktif menjawab, misalnya: “Itu ada kambing, suaranya gimana ya?” Jika anak belum bisa berbicara, tidak apa-apa kita jawab sendiri saja. Setelah anak semakin pintar bicara, saya mendorongnya untuk selalu berkomentar jika sedang menonton video, no silent time. Dengan cara ini, anak saya terbiasa untuk ikut ribut berkomentar jika sedang menonton video, “Ibu, itu mobilnya banyak sekali ya!”
  • Mengajak anak bernyanyi bersama atau berjoget bersama ketika menonton video nursery rhymes. Misalnya ketika menonton video Head Shoulder Knees and Toes, jangan ragu untuk mengikuti gerakan dan mengajarkannya pada anak.

Ada dua jenis screen time yang saya berikan untuk anak saya:

1. Gadget (Screen Time Insidental)

Screen time insidental ini adalah screen time yang saya berikan bagi anak saya dalam keadaan mendesak, terutama ketika dalam perjalanan. Itu pun pilihan pertama yang saya berikan adalah melihat album foto atau video dia sendiri sembari saya menceritakan foto apa itu. Setelah semakin pintar bicara, melihat album foto dan video ini juga mengajarkan anak untuk bisa me re-callperistiwa yang telah terjadi, “Ini lagi di mana ya? Lagi apa ya?”

Jika memang sudah mentok banget, terpaksa saya berikan video. Video yang saya berikan berkisar antara nursery rhymes, edukasi, atau serial anak yang sudah ‘lolos’ saya pilihkan sebelumnya.

Kenapa gadget hanya saya berikan untuk screen time insidental saja? Alasan kesehatan mata adalah yang paling utama. Dengan ukurannya yang kecil, posisi menonton mengharuskan mata dekat dengan layar, sehingga paparan radiasi semakin besar.

2. TV (Screen Time Reguler)

Screen time reguler diberikan saat weekend saja. Dengan frekuensi 1-2 jam per hari. Screen timereguler diberikan di TV. Biasanya saya mengunduh materi-materi video yang akan diberikan, memasukannya pada flashdisk dan menyetelnya di TV. Sama dengan gadget, video yang saya berikan berkisar antara video kegiatan anak saya di daycare, nursery rhymes, edukasi, atau serial anak yang sudah ‘lolos’ saya pilihkan sebelumnya. Tidak ada acara TV yang saya berikan.

Sama dengan menonton gadget, meskipun saya sambil wara-wiri mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tetap sedikit-sedikit bertanya pada anak saya.

Dengan strategi yang tepat, screen time diharapkan bisa menjadi salah satu sarana stimulasi tumbuh kembang anak. Selamat mencoba, urban mama dan papa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s