Home

Scientia Afifah

Lazim bagi sebuah komunitas di mana manusia-manusia saling bertemu dan berinteraksi, sebuah aturan main menjadi sesuatu yang lekat tak terpisahkan. Aturan main tersebut acap kita sebut dengan hukum. Naluri homo homini lupus yang bersemayam di dalam jiwa manusia menjadikan hukum dibutuhkan agar gerak dan kepentingan manusia tidak saling berbenturan dan berbaku hantam. Bayangkan seandainya di jalan raya protokoler Sudirman, lampu lalu lintas sebagai sarana penegakan peraturan mati dua menit saja– tanpa ada polisi, klakson sudah nyaring di sana-sini. Hal tersebut membuktikan bahwa hukum, sekecil apapun mutlak diperlukan agar ketertiban hidup tercipta, hingga di ujungnya norma utopia itu ada: keadilan.

Berbeda dengan perspektif hukum modern Barat yang menekankan keadilan pada kepuasan batin manusia yang tak berujung, Islam sebagai diin semesta memiliki titik tekan keadilan yang berbeda.  Perbedaan dalam menerjemahkan keadilan ke ruang-ruang teks perundang-undangan tersebut disebabkan karena berbedanya sumber hukum yang dirujuk, yakni hukum manusia berasal dari kreasi nalar manusia, sedangkan…

View original post 1,202 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s