Home

Copy tulisan Ustadz Felix Siauw.

Semoga semua saudara-saudara Muslim dibukakan pintu hatinya… Aamiin…

For surely, it is not the eyes that are blind, but the heart (Al Hajj 46)

Terus terang, karena lingkungan kerja saya didominasi non-Muslim, kejadian ini merupakan salah satu ujian kesabaran dan semoga jadi ladang dakwah, bagaimana saya harus menjelaskan semuanya dengan analogi yang tepat, dengan cerdas, secara tegas bilang “YA” ini penistaan agama dan saya sakit hati.

Masih ada yang menganggap ini ada unsur politik – saya harus tegaskan berkali-kali, menceritakan para ulama, masih ada yang mempermasalahkan EYD – saya harus berikan analogi yang membuat mereka ga bisa jawab balik. Sejauh ini analogi yang tepat adalah dengan analogi pengarang buku dan buku (yang saya dapat dari saudara saya di grup keluarga besar).

Pas nulis ini saya baru sadar itu rencana Allah, membuat saya membaca itu ketika saya selalu memikirkan cara penjelasan yang tepat.

Sedih banget pokoknya, sampai nangis dalam do’a sehabis sholat, mohon diberikan kesabaran, mengulang-ulang do’a ini:

[رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِينَ [البقرة :250]

Our Lord! Bestow on us endurance, make our foothold sure, and give us help against the disbelieving folk (Al Baqarah 250)


Terus terang, mengikuti berita akhir-akhir ini, saya sangat salut kepada orang-orang yang masih membela penista Al-Quran, atau yang cenderung pada penista Al-Quran itu

Saya salut pada pimpinan penegak hukum yang dari awal terkesan kuat sangat cenderung kepada penista Al-Quran, seolah menjadi jurubicaranya, mengarahkan opininya

Saya salut pada yang disebut-sebut cendekiawan namun tak terusik ketika Al-Quran dilecehkan, dengan berbagai argumen palsu mengalihkan ummat dari kebenaran

Saya salut pada pimpinan pemerintahan yang mencari pembenaran lari dari tugas, lari dari rakyat, lari dari kebenaran, lari dari agama, kemudian menuduhkan ini dan itu

Saya salut pada yang yang katanya “ulama”, tapi sama sekalu tak ada takutnya kepada Allah, dekatnya dengan pemilik uang, lisannya tak cenderung kepada Islam dan Muslim

Saya salut pada mereka yang berpeci dan berkoko, berkerudung dan berjilbab, tapi senantiasa punya fitnah untuk mereka yang mencintai Al-Quran dan As-Sunnah

Saya salut pada mereka yang selalu menyebut Al-Quran dan As-Sunnah, tapi justru melarang aksi #BelaQuran, tidak hanya itu, juga nyinyir, meleceh dan melucah pasca aksi itu

Saya salut pada reporter dan jurnalis yang turun saat aksi, tapi gagal mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tumpah ruah, dan bisa menemukan setitik salah dan alpa

Salut! Mereka bilang, perkataan penista Al-Quran tidak ada indikasi penistaan, mereka anggap jutaan Muslim yang aksi kemarin semua salah dengar, semua bodoh akalnya

Salut! Mereka bilang semua aksi kemarin diprovokasi Buni Yani dan salah transkripnya, seolah jutaan Muslim lain tak bisa memahami video Bahasa Indonesia tanpa transkrip

Salut! Mereka bisa membohongi hati, menutup nurani, tuli terhadap nasihat, angkuh dihadapan ulama, keras didepan kebenaran. Padahal semua sudah nyata-nyata

Salut! Mereka masih menyangka semua peserta aksi 411 kemarin adalah bayaran, demi nasi bungkus, membuat banyak kerusakan, dan berniat anarkis

Selamat buat anda semua yang diatas, kini ummat bisa melihat sebab anda semua sudah menunjukkan jati diri, hingga kami tau siapa anda, dan apa yang anda banggakan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s