Home

Di Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif kali ini, saya (setelah berdiskusi dengan suami) memutuskan memilih fokus dengan komunikasi produktif dengan anak. Mengapa? Karena bagian komunikasi produktif dengan pasangan sudah sering kita lakukan bersama, sementara dengan anak masih lebih banyak missed-nya. Selain itu, karena beberapa minggu terakhir ini, nampaknya littlehaidar (LH, 39 bulan) semakin menantang, bahkan mengakibatkan saya terkadang kehilangan suara lembut saya dan mengabaikan kaidah-kaidah komunikasi anak yang telah diusahakan selama ini.

Pertama-tama, saya akan bercerita sedikit tentang gambaran komunikasi saya dan LH. Karena saya bekerja, waktu untuk berkomunikasi pada hari kerja terbatas pada: (1) pagi, di perjalanan ke daycare/kantor (2) malam, selama perjalanan pulang ke rumah dan sebelum tidur.

Selama ini, kami terbiasa evaluasi hari ini selama perjalanan pulang ke rumah atau sebelum tidur. Evaluasi di sini maksudnya LH bercerita tentang kegiatannya selama di daycare, lalu saya memberikan respon, entah itu pujian, kritikan, atau nasihat. Nah, dengan latar belakang ini, poin komunikasi produktif yang saya pilih adalah JelasMemberikan Pujian/KritikanJelas di sini berarti yang dipuji atau dikritik adalah perbuatannya, bukan pribadi si anak.

Kaidah ini sudah kami coba terapkan, tapi karena yang saya sebutkan di atas, LH yang semakin menantang, saya harus lebih konsisten menerapkan ini.

Kami terbiasa dengan istilah bagus/baik/good VS not good. Saya biasanya memberikan komentar sepeti ini: “LH, hari ini not good ya, karena ………” atau “LH, hari ini baik ya karena ……” Mungkin sekarang urutannya akan sedikit saya ubah menjadi lebih fokus kepada perbuatannya terlebih dahulu, seperti: “Hari ini LH mengompol, itu bagus nggak?”

1 Juni 2017

Hari ini tanggal merah, kita bertiga beraktivitas di rumah saja, dan surprisingly hari ini berjalan indah. Tidak ada hal yang membuat saya marah pada LH. Hanya sedikit kecelakaan di sore hari, ketika LH akan menemani saya memasak di dapur.

LH: “Ibu, LH mau pipis”

Ibu: “Yuk, buka celananya”

LH: “Celananya basah…”

Ibu: “Udah keluar ya pipisnya?”

Well, di sini saya memiliki dua pilihan: (1) Langsung mengkritik kenapa dia bisa ngompol, padahal sudah lama nggak pernah ngompol (2) Mengapresiasi bahwa dia sudah bilang “mau pipis” tapi lain kali bilangnya “lebih cepat ya”

Saya memilih poin ke-dua dan tidak mengkritik LH. Hasilnya? Sisa hari kami jalani dengan bahagia. Pada malam hari sebelum tidur, saya & suami tidak memberikan wejangan-wejangan pada LH (yang biasanya panjang lebar kami berikan kalau LH melakukan hal tidak menyenangkan selama hari itu), karena simply  hari ini dia well-behaved.

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s